Kamis, 26 Juli 2012

tugas kuliah pj


Deskripsi Wilayah Desa Bontihing





     Oleh   :
Nama:   I Nyoman Budarka
Kelas : V / B
NIM  : 0814031054






JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA

2010
TUGAS
 SIG (Sistem Informasi Geografi)

Soal:
1.      Buatlah deskripsi potensi wilayah masing-masing saudara ?
2.      Carialh data curah hujan 1999 – 2000. Buat diagramnya dan deskripsikan diagram itu?
3.      Kumpulkan data penduduk dari komposisinya gambarkan dengan diagram lingkaran sebagai Sistem Informasi Geografi!

JAWABAN !
1.      Deskripsi Wilayah Desa Bontihing Kec. Kubutambahan
            Dalam mendeskripsikan wilayah Desa Bontihing, menggunakan teknik pustaka. Data yang digunakan belum dikatakan Valid. Sehingga untuk menguji hipotesa-hipotesa yang dihasilkan dari teknik pustaka ini maka memerlukan data yang pasti dari lapangan melalui cek lapangan dan mengunakan teknik statistik dalam pengujianny. Dalam mendeskripsikan daerah desa Bontihing saya mengunakan 10 konsep ensensial geografi. Dengan mengunakan konsep ini maka secara keseluruhan  daerah Desa Bontihing dapat dideskripsikan maupun lebih mengkhusus. Dari 10 konsep Ensansial geografi daerah desa Bontihing dapat dideskripsikan sebagai berikut :
1.      Konsep Lokasi
Jika ditinjau dari konsep lokasi, Desa Bontihing terletak di kecamatan kubutambahan, kabupaten buleleng, Propinsi bali. Sama dengan daerah-daerah desa lainnya Desa bontihing memiliki batas atau berbatasan dengan dengan daerah atau desa lainnya meliputi :
v  Disebelah utara berbatasan dengan Desa Bila Tua
v  Disebelah selatan berbatasan dengan Desa Mengandang
v  Disebelah timur berbatasan dengan Desa tamblang
v  Disebelah barat berbatasan dengan Desa Pakisan
2.      Konsep Jarak
Desa bontihing dapat dijangkau dengan kendaraan bermotor atau kendaraan lainnya +/- 30 menit dari kubutambahan dengan jarak +/- 7 km.
3.      Konsep keterjangkauan
Desa Bontihing dapat ditempuh melalui dua jalan. Jalan yang pertama yaitu melalui jalan Singaraja – Kintamani dan jalan yang kedua melalui desa jagaraga. Dimana desa Bontihing sangat mudah dijangkau dengan kendaraan bermotor atau kendaraan lainnya karena sudah tersedia sarana transportasi seperti jalan dan jembatan, mengingat desa bontihing berada diantara dua sungai.
4.      Konsep Morfologi
Didaerah Desa bontihing  terjadi bentuk lahan Fluvial dengan cirri-ciri sebagai berikut:
v  Tanah daerah desa bontihing merupakan tanah alluvial dengan cirri-ciri sebagai berikut: tanah berwarna abu-abu sampai kecoklatan dan cocok digunakan sebagai lahan pertanian
v  Memiliki ketinggian lereng yang landai 2-8 %, namun terdapat juga perbukitan diperbatasan bagian selatan dan timur dimana memilki kemiringan lereng yang cukup terjal.
v  Banyak terdapat sungai yang sangat membantu masyarakat dalam mengelola lahan pertanian mereka. Dimana sungai yang ada didesa bontihing ini berbentuk V hal ini disebabkan oleh arus sungai yang sangat deras, daerah aliran sungai yang terjal dan sungai tidak dapat menampung debit air pada saat musim hujan sehingga sering kali terjadi air bah disekitar sungai dan merusak areal persawahan masyarakat yang berada disekitar sungai tersebut.
v  Terdapat batuan asal sedimentasi.
5.      Konsep pola
Pola permukiman desa bontihing adalah bergerombol atau memusat. Hal ini disebabkan oleh keinginan masyarakat untuk mendapat kemudahan dalam mendapatkan sarana dan prasana yang disediakan oleh pemerintah desa setempat seperti pasar, lpd, sekolah dan lain-lain. Namun ada juga permukiman yang tersebar secara tidak merata ini disebabkan oleh keadaan fisiografis desa bontihing itu sendiri yang sebagian wilayahnya terdiri dari perbukitan sehingga pola permukimannya tersebara secara tidak merata.
6.      Kosep Aglomerasi
Aglomerasi adalah kecenderungan terajadinya pengelompokan atau pemusatan pada suatu daerah. Di desa bontihing terjadi pemusatan jumlah penduduk dan permukiman di banjar tengah dan banjar bedauh. Dimana jumlah penduduknya lebih besar dari jumlah penduduk banjar lainya.
7.      Konsep nilai kegunaan
Desa Bontihing memiliki potensi sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar daerah desa bontihing memilki jenis tanah alluvial. Dimana jenis tanah ini sangat cocok untuk pertanian dan perkebunan. Contohnya persawahan dan perkebunan cokelat.
8.      Konsep interlasi dan interdependensi
Desa bontihing memiliki interelasi dan interdependensi yang sangat kuat dengan desa-desa yang ada disekitarnya. Dengan adanya aktifitas ekonomi seperti pemasaran hasil pertanian dan perkebunan ke pasar tamblang dan masyarakat desa bontihing membeli kebutuhan sehari-hari di pasar tersebut.
9.      Konsep Dferensial areal
Desa Bontihing memiliki keunikan tersendiri. Dimana subak memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga kelanggsungan kengiatan pertanian didesa bontihing. Sehingga tidak terjadi kesenjangan social dalam pembagian air untuk pengairan lahan pertanian masyarakat didesa bontihing.
10.  Konsep keterkaitan keruangan
Pengaruh dari daratan alluvial menjadikan desa bontihing subur pertaniannya. Dengan demikian mengakibatkan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.
            Desa Bontihing memiliki potensi pertanian dan perkebunan untuk kedepannya. Dimana jenis tanaman padi mendominasi pertanian didesa bontihing sedangkan untuk perkebunan didominasi oleh tanaman durian, cokelat mangga. Dengan pemanfaatan lahan yang sesuai maka kedepanya akan menjadikan desa bontihing sebagai penghasil padi dan buah-buahan bagi desa yang ada disekitarnya.



2.      Data Curah Hujan Kecamatan Buleleng dari tahun 1999-2000
No
Bulan
Tahun (mm)
Jumlah
Rata-rata

1999
2000

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
1
Januari
514
317
831
83,10
2
Februari
302
151
453
45,30
3
Maret
300
115
415
41,50
4
April
167
113
280
28,00
5
Mei
115
11
126
12,60
6
Juni
8
138
146
14,60
7
Juli
3
1
4
0,40
8
Agustus
4
0
4
0,40
9
September
0
3
3
0,30
10
Oktober
59
12
71
7,10
11
November
273
122
395
39,10
12
Desember
83
181
264
26,40
Jumlah
1828
1164
2992
299,20
Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Buleleng, 2009
Keterangan:    0 = Ada hujan tetapi tidak dapat di ukur
-    = Tidak ada hujan
Berdasarkan table di atas diketahui bahwa rata-rata curah hujan tahunan mencapai 299,20 mm/tahun. Jumlah rata-rata curah hujan terendah pada bulan September yaitu 0,30 mm/tahun, jumlah rata-rata curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari yaitu 83,10 mm/tahun. Setelah mengetahui data curah hujan, maka akan diketahui jumlah bulan basah, bulan sedang, dan bulan kering yang dapat dilihat pada table di bawah ini.
Jumlah Bulan Basah, Bulan Sedang, dan Bulan Kering Kecamatan Buleleng Tahun 1999-2000

No.
Klasifikasi Bulan
Jumlah Bulan
Jumlah total
Rata-rata
1999
2000
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
1
Basah
6
7
13
1,30
2
Sedang
1
-
1
0,10
3
Kering
5
5
10
1,00

Jumlah
12
12


Sumber : Data Curah Hujan Kecamatan Buleleng 2 Tahun Terakhir (1999-2000)
            Berdasarkan di  atas, maka rata-rata bulan basah lebih besar daripada jumlah bulan sedang dan bulan kering. Jumlah rata-rata bulan basah adalah 1,30 bulan/tahun, rata-rata bulan kering adalah 1,00 bulan/tahun, dan rata-rata bulan sedang adalah 0,10 bulan/tahun.
Dari data rata-rata curah hujan bulan kering dan bulan basah tersebut dapat ditentukan tipe iklim wilayah Kota Singaraja dengan sistem Schmidt dan Ferguson. Schmidt dan Ferguson menentukan tipe iklim dengan menggunakan ratio Q (Quotient), yaitu perbandingan antara rata-rata bulan kering dengan bulan basah dikalikan 100%. Klasifikasi tipe iklim menurut Schmidt dan Ferguson dapat dilihat pada Tabel berikut.

 


Klasifikasi Tipe Curah Hujan Menurut Schmidt-Ferguson
No.
Tipe Iklim
Nilai Q
Tipe Daerah
(1)
(2)
(3)
(4)
1
A
0%≤ Q< 14,3 %
Sangat basah
2
B
14,3% ≤ Q< 33,33 %
Basah
3
C
33,33 % ≤ Q< 60 %
Agak basah
4
D
60 % ≤ Q < 100 %
Sedang
5
E
100 % ≤ Q < 167%
Agak kering
6
F
167 % ≤ Q < 300 %
Kering
7
G
300 % ≤ Q < 700 %
Sangat kering
8
H
Q 700 %
Luar biasa kering

Berdasarkan rumus tersebut, maka perhitungan curah hujan Kota Singaraja dilihat dari rumus “Q dapat dihitung sebagai berikut.

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka wilayah Kota Singaraja memiliki nilai Q = 76,92%. Apabila disesuaikan dengan tabel pembagian iklim menurut Schmidt dan Ferguson, maka wilayah Kota Singaraja termasuk dalam tipe iklim D dengan karakteristik wilayah yang sedang. Dengan rata-rata bulan basah lebih besar dari jumlah rata-rata bulan kering dan bulan sedang. Untuk lebih jelasnya tipe iklim Kota Singaraja menurut Schmidt dan Ferguson dapat dilihat pada Gambar


Q = 76,92 %
2
3
4
9
7
6
5
11
12
8
10
B
C
D
E
F
G
H
14,3 %
60 %
33,3 %
100 %
167 %
300 %
700 %
Jumlah rata-rata bulan basah
A
0
4
1
5
6
2
3
7
8
1
9
10
11
12
 




Tipe Iklim di Kota Singaraja Menurut Schmitd-Ferguson
(Diolah sendiri)






3.      Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kota Singaraja Tahun 2009
No
Laki-laki
(Jiwa)
Perempuan (Jiwa)
Jumlah
(Jiwa)
%
1
2.731
2.785
5.516
5,44
2
3.678
3.838
7.516
7,41
3
4.119
4.204
8.323
8,20
4
4.292
4.369
8.661
8,54
5
4.600
4.813
9.413
9,28
6
4.424
4.398
8.822
8,70
7
4.016
4.162
8.178
8,06
8
3.827
4.058
7.885
7,77
9
3.755
3.969
7.724
7,61
10
3.517
3.430
6.947
6,85
11
3.315
3.326
6.641
6,55
12
2.753
2.841
5.594
5,51
13
2.177
2.145
4.322
4,26
14
1.880
2.001
3.881
3,83
15
900
1.117
2.017
1,99

49.984
51.456
101.440
100
    
Jika dilihat dari diagram di atas  maka:  Apabila dilihat dari perbandingan jenis kelamin tampak jenis kelamin perempuan lebih banyak daripada jumlah jenis kelamin laki-laki. Hal ini memungkinkan terjadinya peningkatan jumlah yang akan datang apabila tidak mendapatkan penanganan yang serius.


Daftar Pustaka
Suprihartoyo dkk, 2009, pola permukiman penduduk. Diakses di Http://guru muda.com/bse/pola-permukiman-penduduk. Dakses pada tanggal 20 september 2010
Wiratama, I Gusti Ngurah Made. 2010. Pengaruh Tingkat Pendidikan Terhadap Kesadaran Lingkungan Para Pedagang Dalam Berjualan Di Pasar  Senggol  Kota Singaraja (Suatu Pendekatan Ekologi). Skripsi. Undiksha Singaraja (Tidak Diterbitkan)  




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar